Minggu, 22 Desember 2013

SELEMBAR KISAH UNTUK IBU TERINGAT SAAT KAU MEMPERTARUHKAN HIDUP DAN MATIMU

Posted by Alfan Ananta on 05.52



 Hujan mengguyur bumi tercinta kita di malam yang sunyi ini. Malam dimana para anak muda pergi menemui kekasih mereka guna melepas rasa rindu yang menggebu-gebu dalam hati.. Yah...malam minggu malamnya kunjung pacar.
Masih dengan aktivitas yang biasa aku lakukan setiap harinya, berada di depan laptop mencari informasi-informasi yang aku butuhkan di internet. Sekali-kali aku pun menengok akun Facebook ku untuk menyapa semua teman-teman.
Hujan masih mengguyur bumi ini, hawa dingin pun terasa menembus tulang. Suara tetesan air hujan terdengar begitu keras ditelinga menghiasi malam yang dingin ini. Masih dengan aktivitas yang aku lakukan, tiba-tiba aku teringat akan sesuatu yang sangat penting sesuatu yang aku temukan ketika dalam perjalanan pulang tadi. Ea...”Hari Ibu”.
Setiap tanggal 22 Desember, Negara kita Indonesia memperingati hari yang sangat mulia yaitu Hari Ibu. Hari Ibu adalah hari dimana semua orang yang memiliki Ibu maupun tidak memberikan hadiah dan ucapan terimakasih kepada Ibu mereka karena telah melahirkan dan membesarkan mereka. Setidaknya Hari Ibu merupakan hari untuk membuat semua Ibu di Indonesia bahagia.
Sambil menikmati hujan yang masih terjatuh, aku teringat akan semua kenangan tentang Ibuku. Kenangan yang selalu terpaku dalam hati. Kala itu, aku masih duduk di bangku SD kelas 4 dan Ibuku sedang mengandung adik perempuanku Aisyah. Perut yang begitu besar selalu dibawanya kemana-mana, mencuci, memasak dan bahkan bekerja. Namun, Ibuku tidak pernah mengeluh akan semua itu, dia terus tersenyum dan tersenyum.
Usia kandungan Ibuku sudah mencapai 9 bulan dan tinggal menghitung hari adikku akan melihat dunia yang indah ini. Aku selalu berdoa akan keselamatan Ibu dan adikku, berdoa sepanjang waktu.
Hari itu pun tiba. Ibuku merintih kesakitan menahan sakit yang melanda dirinya. Air mata tak henti-hentinya menetes dari kedua mata indahnya, aku yang menyaksikannya pun tak kuat menahan air mataku. Ibu berteriak kencang sekencangnya, berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan adikku. Antara hidup dan mati, itulah yang aku lihat dari raut wajah Ibuku yang sedang berusaha melahirkan ananknya.
Bibirku tak henti-hentinya berkomat-kamit mengucap lafaz doa agar proses kelahiran berjalan dengan lancar. Namun, melihat raut wajah Ibuku yang kesakitan batinku langsung tersentak dan teringat akan dosa-dosa yang pernah aku lakukan kepadanya. Hati ini seakan tertusuk oleh ribuan tombak dari atas langit biru yang cerah. Ibu maafkan aku.
Ruangan itu tiba-tiba hening seketika. Rintihan ibuku tidak terdengar lagi. Sang bidan pun tidak berucap apa-apa. Ketika mataku melirik kearah tangan si bidan terlihat sesosok tubuh mungil nan putih tak bernafas. Mataku terasa perih dan panan seakan-akan air mata mau keluar dari kedua mataku. Adik perempuanku tak bisa melihat dunia yang indah ini, aku tidak bisa mengajak dia bermain, dia tidak bisa melihat wajah wanita yang melhairkannya, Ibu tidak bisa menggendong dan menyusuinya, Ibu tidak bisa merawatnya hingga besar. Air mata ini tidak bisa berhenti menetes.
Ibuku pingsan kelelahan. Ayahku tidak bergeming sama sekali dari sisi Ibuku. Kesetiaannya sangat aku banggakan. Pengorbanan yang Ibuku lakukan takkan pernah terbalaskan oleh apapun dan sampai kapanpun. Ibu adalah wanita terindah di dunia, Ibu adalah pelita hidup bagi anaknya, Ibu adalah sang belahan jiwa dan Ibu adalah segala-galanya di Dunia ini. Tak ada hadiah yang akan bisa menggantikan semua yang telah dilakukannya, Ibu adalah sinar matahari yang selalu bersinar sepanjang masa.
Hujan pun masih membasahi bumi ini, basah dan basah. Cerita ini ku tulis untuk mengungkapkan rasa terimakasih dan maafku kepada Ibu tercinta yang telah memperjuangkan hidupnya demi diriku, demi membuatku bisa melihat dunia yang indah ini. Selamat Hari Ibu, Ibu. I LOVE YOU.

0 comments:

Posting Komentar