Selasa, 23 April 2013

BERANI JUJUR HEBAT

Posted by Alfan Ananta on 18.57



Tidak semua orang berani bicara jujur terhadap apa yang dilihat dan harus disampaikan. Hidup adalah pilihan.
Ada banyak pilihan untuk berdusta, tapi satu pilihan saja untuk jujur. Seorang anak SD yang nilai ulangannya hancur, akan dihadapkan pada berbagai pilihan tadi. Pertama, bias saja dia merobek hasil ulangan, membuang di tempat sampah dan mengatakan kepada orang tuanya bahwa ulangan belum dilaksanakan. Atau, kedua, bisa juga setibanya di rumah, dia mengatakan bahwa mendapat nilai yang bagus, namun sang guru tidak membagikan hasil ulangannya. Banyak sekali, bukan pilihannya! Ketiga, keempat, dan seterusnya.
Kondisi berbeda akan dia hadapi jika memilih untuk jujur. Dalam hal ini, maka tak ada pilihan baginya, kecuali mengatakan apa adanya. “Bu/Pak, maaf, nilai ulangan saya jelek. Ibu/Bapak jangan marah, ya,” begitu pilohan satu-satunya. Tidak ada pilihan yang lain.
Mengembalikan genuine character
            Jujur adalah genuine character manusia. Sayangnya, sekarang banyak manusia yang justru kehilangan karakter aslinya.         
Pernah melihat sirkus? Dalam pertujunkan tersebut, dapat dilihat seekor singa yang sangat penurut ketika diperintahkan melompati lingkaran api, harimau yang tak malu-malu berbaris sambil sesekali mengangkat kedua kaki depa, atau beruang yang begitu pandai mengendarai sepeda. Jika pernah menyaksikan berbagai atraksi tadi, apa yang dipikirkan untuk pertama kalinya? Terkagum-kagum melihat polah berbagai binatang tersebut atau justru merasa aneh?
            Apapun yang dipikirkan, semua memang terserah kepada pribadi masing-masing. Hanya saja, yang perlu disadari, bahwa “kepintaran” berbagai binatang buas tersebut menghibur, sejatinya tak lepas dari adanya metamorphosis karakter yang dialami binatang itu sendiri. Singa yang sesungguhnya adalah binatang buas yang ber-genuine character galak dan liar, mendadak menjadi teramat jinak dan mudah diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang lucu. Begitu juga dengan semua binatang buas lain dalam sirkus tersebut.
            Tetapi, bukan hanya binatang yang memiliki genuine character. Manusia juga serupa. Hanya saja, jika genuine character singa dan harimau memiliki adalah buas, lantas apa karakter asli manusia? Tak lain, jawabannya adalah jujur.
            Jujur adalah fitrah, genuine character tadi. Manusia tidak hanya memiliki karakter asli tersebut, namun juga membutuhkan kejujuran dalam kehidupan mereka. Sayangnya, kejujuran sekarang seolah-olah menjadi barang langka. Maraknya kasus korupsi, kecurangan dan kebohongan seperti menjadi bagian dari kehidupan manusia sendiri. Manusia tidak sadar bahwa semua itu sesungguhnya merupakan karakter yang bermetamorfosis dalam diri mereka, yang mampu menggerus genuine character yang mereka miliki. Akibatnya, manusia pun menjadi sebuah lelucon bagi manusia lain yang melihatnya. Persis seperti sirkus tadi.
            Tidak ada yang menginginkannya, bukan? Tentu saja. Untuk itulah manusia harus sadar bahwa mereka bukan sirkus. Manusia hidup di dunia nyata, bukan dunia sirkus yang menjadikan mereka sebagai bahan tontonan. Maka, agar tidak menjadi lelucon, tidak ada jalan lain bagi manusia, kecuali harus kembali kepada genuine character yang dimiliki.
Akar Karakter
            Jujur, tentu bukan satu-satunya karakter yang dimiliki manusia. Sebab, karakter manusia yang sebenarnya teramat beraneka ragam. Hanya saja, tidak dipungkiri, jujur merupakan akar karakter yang merupakan sumber dari segala sumber kemuliaan manusia.
            Meski jujur merupakan genuine character manusia, namun karena telah  terkontaminasi dengan lingkungan yang beragam pula, maka untuk  membangunnya perlu dilakukan exercise. Latihan tersebut penting untuk menguji seberapa besar kejujuran seseorang.
            Sebagai ilustrasi, seseorang yang senantiasa menyuarakan antikorupsi, harus teruji apakah dia benar-benar antikorupsi atau karena kesempatan yang belum memungkinkan untuk melakukan korupsi. Ibaratnya, jangan sampai dia bersuara lantang, padahal menjadi bendahara organisasi saja belum pernah.
            Atau memberlakukan kantin kejujuran. Sebuah kantin yang menjajakan berbagai jenis makanan dan minuman. Semua siswa bisa mengambil makanan semaunya dan setelah memakannya tinggal membayar apa yang telah dimakan tadi di kasir. Ini akan mengetahui seberapa besar kejujuran yang mereka miliki dengan mengatakan berapa jumlah makanan yang dimakan.
            Jadi, memang harus ada media untuk menguji semua itu. Dan diantara sekian banyak ujian tersbut, pendidikan adalah tempat ujian dan latihan kejujuran yang paling memumpuni. Dunia pendidikan tidak hanya melatih kejujuran siswa, namun juga guru. Melalui pengawasan tentunya, karena latihan ini tidak bisa dilepas begitu saja. Melalui mekanisme tersebut, diharapkan akan muncul insan-insan negeri ini, yang memiliki karakter jujur yang kuat.
Implementasi
            Lalu, bagaimana implementasi yang dilakukan untuk membangun karakter jujur tersebut. Ada dua pendekatan yang dilakukan. Pertama, mengintegrasikan ke dalam kurikulum. Dan kedua, melakukannya dalam bentuk school culture.
            Untuk pendekatan pertama, salah satu caranya adalah melalui kerja sama dengan KPK, karena KPK merupakan lembaga yang memiliki kewenangan, otoritas, symbol, dan sebagainya terkait akibat ketidakjujuran. Hal ini bisa dimengerti, karena korupsi itu sendiri merupakan akibat dari ketidakjujuran. Sedangkan pelaksanaannya, memasukkan modul tersebut ke dalam sub-bahasan mata pelajaran yang berkaitan.
            Sementara pendekatan kedua dilakukan karena tak dipungkiri, sebenarnya sulit menterjemahkan kejujuran tersebut. Untuk itu, maka agar tidak menjadi lelucon, tidak adajalan lain bagi manusia kecuali harus kembali pada genuine character yang dimiliki. Manusia harus sadar bahwa mereka hidup di dunia nyata, bukan sirkus. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan menerjemahkan melalui perilaku sehari-hari. Misalnya kantin kejujuran tadi. Memang selayaknya sebuah eksperimen, tidak semua school culture semacam itu berhasil. Bagaimana pun, adanya kecurangan atau ketidakjujuran di satu tempat tidak lantas menjadikan pola pendekatan tersebut terhenti secara keseluruhan.
            Pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan pelaksanaan Ujian Nasional (UN), adalah contoh lain. Dalam pengelolaan BOS, misalnya, setiap sekolah diberi kewenangan mengelola sejumlah dana, sesuai dengan anggaran yang diajukan. Ujiannya adalah, apakah setiap sekolah mampu mengemban amanah pengelolaan tersebut ataukah tidak, sesuai dengan petunjuk penggunaan yang telah diberikan.
            Begitu pula dengan pelaksaan UN yang melibatkan kurang lebih empat juta peserta diseluruh Indonesia tahun kemarin. Dalam hal ini, kejujuran setiap elemen yang terlibat di dalamnya juga diuji, termasuk guru, siswa, pengawas, dan sebagainya.
            Memang, tidak mudah untuk menjalaninya, itu harus diakui. Namun seumpama permainan sepak bola, jika ada pemain yang melanggar, maka akan dikenakan peringatakan, kartu kuning, atau kartu merah. Adanya pelanggaran, tidak serta-merta meniadakan pertandingan itu sendiri.
            Begitulah jujur, yang merupakan genuine character manusia. Sebagai sebuah fitrah, manusia akan merasakan betapa nikmat berbuat jujur. Bahkan, jika sudah kepalang tak jujur sekalipun dan kemudian harus menanggung akibatnya karena tak ada dusta yang tak terhakimi, maka jujur pada tahap selanjutnya merupakan pilihan yang baik.
            Seorang kouptor yang tertangkap KPK, misalnya, seluruh proses hukum akan berjalan lancar jika disertai dengan kejujuran. Hal itu bisa dilakukan, misalnya dengan mengaku terus terang atas perbuatan korupsinya, termasuk jumlah, motivasi,  modus dan dengan siapa saja korupsi dilakukan. Jika itu pilihannya, maka tak akan persidangan berbelit-belit yang termasuk membayar mahal pengacara.
            Pilih yang mana? Masih adakah yang memilih menjadi tontonan dan lelucon semacam sirkus? Maka, berbuat jujurlah. Karena sesungguhnya tidak ada kejujuran yang sia-sia dan tak ada dusta yang tak terhakimi.

0 comments:

Posting Komentar