Rabu, 24 April 2013

SECANGKIR KOPI

Posted by Alfan Ananta on 16.46



Sore hari merupakan waktu yang sangat nyaman untuk menikmati secangkir kopi hangat dengan tambahan susu kental manis serta ditemani dengan beberapa potong roti. Apalagi adanya nyanyian dari kicauan burung yang merdu akan menambah indahnya suasana.
“ Tok…tok…tok…,” suara pintu yang tiba-tiba membuat hayalanku memudar.
“Iya, tunggu sebentar,” sautku dari kejahuan sambil berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Aku pun terkejut setelah membuka pintu dan ternyata:
“ Heri…..,” teriakku kegirangan ditambah rasa kagetku.
“Apa kabar geng!!! Long time no see,” tambahku dengan senyuman yang lebar.
Heri adalah teman satu kamar sewaktu masih mondok dulu. Sudah cukup lama kami tidak pernah sbertemu.
“Aku baik saja Fan,” jawabnya sambil tersenyum juga.
“Kamu sendiri gimana,” tambahnya.
“Aku baik-baik saja kok, ayo masuk,” jawabku sambil mempesilahkan dia untuk masuk.
Aku pun mengajaknya keteras belakang dimana tempatku tadi menghayalkan indahnya minum secangkir kopi dengan beberapa potongan roti segar.
“Waaaaah……semakin ganteng aja temanku yang satu ini,” ujarku padanya.
“Aaaaaaah……bisa aja kamu, aku masih sama kok dengan yang dulu nggak pernah berubah,” jawabnya sambil tersenyum malu.
“Oh ya… omong-omong sekarang lagi sibuk apa niiih,” tanyaku dengan semangat.
“Sibuk kuliah aja mas bro,” jawabnya dengan simple.
“Kamu sendiri jak gimana,” tanyanya padaku.
“Sama, aku juga lagi sibuk kuliah aja,” jawabku.
Suasana yang begitu nyaman sangat jelas terasa pada saat itu, hayalanku yang tadi pun kembali menghampiri minum kopi dengan ditemani beberapa potong roti segar.
“Mau minum apa nih,” tanyaku dengan tiba-tiba.
“Mmmmm…apa ea,” jawabnya bingung.
“Bagaimana dengan secangkir kopi ditambah susu kental manis serta beberapa potong roti segar?,” saranku yang menjadi hayalanku dari tadi padanya.
“Ide bagus tuuh dan kelihatannya asyik banget tuuh, ok dah,” jawabnya dengan mengancungkan jempol tangannya yang berarti setuju.
“OK…tunggu sebentar ea, nikmati saja suasananya ok!,” kataku sambil berjalan menuju dapur.
Terdengar jelas sekali kicauan burung yang begitu merdu menari-nari ditelinga ditambah lagi hembusan angin sepoi-sepoi yang memberikan ketenangan dalam hati. Maklum halaman belakang rumahku berdekatan dengan dapur, jadi suasana seperti itu akan terasa setiap harinya.
“Dua cangkir kopi ditambah susu kental manis dan tiga potong roti segar sudah datang,” kataku dengan suara yang sedikit keras menuju teras belakang.
“Silahkan diminum Ri kopinya mumpung masih hangat,” ujarku padanya sambil menyuguhkan kopi serta rotinya.
“Makasih ea…,” jawabnya.
“Suasana yang sangat tepat untuk minum secangkir kopi ea Fan,” katanya sambil menikmati secangkir kopi yang perlahan-lahan memasuki tenggorokannya.
“Ea…benar banget Ri, ini suasana yang sangat tepat sekali,” balasku.
Rumput-rumput yang melambai-lambai seperti ikut memeriahkan suasana yang begitu nyaman, harum bunga mawar pun menambah keindahan suasana serta kicauan burung seakan tak mau kalah dalam memberikan yang terbaik untuk mengindahkan suasana sore itu.
“Ri, kamu tahu nggak kalau sebelum kamu datang tadi aku sedang berkhayal tentang nikmatnya minum secangkir kopi dengan tambahan susu kental manis serta ditemani dengan beberapa potong roti segar,” curhatku padanya.
“O ea…,” jawabnya dengan sedikit terkejut.
“Ea….sepertinya apa yang aku khayalkan tadi sudah jadi kenyataan deh, sekarang aku sedang duduk dengan temanku sambil minum kopi dengan tambahan susu kental manis dan beberapa potong roti segar dan rasanya tuuh seneng banget Ri,” kataku dengan mimic yang meyakinkan.
“Bener Fan, rasanya seneng banget minum kopi dengan teman lama yang sudah cukup lama tidak bertemu, susah untuk diungkapkan dengan kata-kata pokoknya,” tambahnya dengan mimik yang begitu bahagia.
Hari pun semakin sore, burung-burung sudah kembali ke sarangnya, senja pun akan kembali keperaduannya begitu pula dengan bunga-bunga yang sudah mulai mengantuk. Namun, angin masih setia menemani karena dia harus memberikan rasa nyaman untuk semua isi alam semesta ini setiap waktu. Bekerja setiap hari tanpa henti, bagaimana rasanya? Tentu saja capek, namun angn tak pernah mengeluh sedikit pun karena itulah tugas yang telah diberikan Tuhan kepadanya.
“Fan, sudah mau malem nih aku pamit ea,” suaranya dengan tiba-tiba memecahkan suasana.
“Oooh…ea udah mau magrib nih, nggak nyangka ea waktu berjalan begitu cepat,” jawabku.
“Ea udah lok gitu aku pamit dulu ea dan thanks ea atas kopinya enak banget ama rotinya juga,” katanya memuji rasa kopiku yang enak.
“Aaaah….biasa kok, thanks juga ea sudah mau menemaiku minum kopi,” balasku sambil mengantarnya ke pindu depan.
“Kapan-kapan datang lagi ea, kita minum kopi bareng lagi,” tambahku sambil membukakan pintu.
“Pasti, aku pergi ea assalamu’alaikum,” ucapnya seraya meninggalkan rumahku.
“Wa’alaikumussalam… hati-hati Ri and see you….,” balasku dengan rasa senang.
Adzan maghrib telah berkumandang mengisyaratkan untuk mendirikan shalat maghrib. Angin pun masih berhembus dengan tenang memebrikan rasa dingin yang menyentuh seakan ikut mengucapkan kata perpisahan padaku. Secangkir kopi, manisnya susu dan potongan roti merupakan symbol kebahagiaanku hari ini.  
Harapanku semoga minum secangkir kopi dengan tambahan susu kental manis serta beberapa potong roti segar bisa aku lakukan setiap hari, baik dengan seorang teman atau hanya sendirian. Namun, alangkah lebih menyenangkan lagi jika ditemani oleh seorang sahabat yang sama-sama gemar meminum kopi. sLangkah kakiku perlahan-lahan menuju tempat peraduanku dengan Tuhan dimana segala keluhanku, kebahagiaanku maupun kesedihanku tertuang di sana.  
       

0 comments:

Posting Komentar