Kamis, 25 April 2013

DAYA TARIK DAN HUBUNGAN INTERPERSONAL

Posted by Alfan Ananta on 16.38



BAB I
PENAHULUAN

A.    Latar Belakang
Salah satu hal yang mendasari terjadi hubungan sosial adalah seberapa jauh seseorang tertarik dengan orang lain. Apabila ada daya tarik di antara mereka, maka kemungkinan terjadinya hubungan lebih besar. Kenyataan seperti ini bisa di lihat di tempat-tempat umum. Karena tidak ada perhatian dan ketertarikan dengan wanita  yang duduk di salah satu bangku, seorang pria tidak akan menjalin hubungan sosial dengan wanita tersebut. Sebaliknya, meskipun kondisi yang ada sebenarnya sulit untuk mengadakan kontak sosial,tapi karena seseorang tertarik sangt kuat pada orang lain, maka akan diusahakan oleh orang pertama tersebut untuk menjalin hubungan.
Ada juga hubungan sosial yang tidak dilandasi oleh ketertarikan. Pada jaman dahulu orang menikah karena dipaksa oleh orang tua. Ada juga perkenalan yang diawali bukan oleh ketertarikan dan pada umumnya pertama kali seorang murid atau mahasiswa yang duduk berdekatan dengan orang lain juga sering tidak dilandasi oleh ketertarikan. Namun demikian bisa diramalkan bahwa hubungan interpersonal yang berkelanjutan adalah hubungan yang diwarnai aspek ketertarikan. Ketertarikan tidak terbatas pada masalah daya tarik wajah atau fisik, tapi juga karena faktor lain. Bagi seorang pedagang akan tertarik dengan orang lain karena baginya calon relasi itu memungkinkan mendatangkan keuntungan. Dengan kata lain karena ada daya tarik ekonomis pada seseorang. Di lain pihak seorang mahasiswa akan tertarik pada dosennya karena dianggap memiliki kualitas intelektual yang tinggi dan cara penyampaian yang menarik.

B.     Rumusan Masalah
Ada beberapa rumusan masalah yang menjadi daya tarik dan hubungan interpersonal yang diambil oleh kelompok 2, antara lain:
a.       Apakah pengertian dari daya tarik dan hubungan interpersonal?
b.      Apakah factor-faktor yang mempengaruhi daya tarik dalam hubungan interpersonal??
c.       Bagaimana motivasi dalam hubungan Interpersonal?
C.    Tujan
a.       Untuk mengetahui pengertian daya tarik dan hubungan interpersonal.
b.      Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi daya tarik dalam hubungan internasional.
c.        Untuk mengetahui motivasi dalam hubungan Interpersonal seperti apa.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Daya Tarik dalam Hubungan Internasional
Daya tarik interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang[1]. Makin tertarik kita dengan orang lain maka semakin besar kecenderungan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pengertian daya tarik sering terlalu sempit,sekali lagi, terbatas pada daya tarik fisik. Padahal daya tarik fisik hanya merupakan salah satu bagian daya tarik. Namun ada baiknya jika hal ini dijadikan contoh untuk mengembangkan pemahaman tentang daya tarik.
Seseorang yang menarik wajahnya biasanya akan diberi penilaian yang baik. Orang yang memberi penilaian baik ini berarti mempunyai sikap yang positif. Oleh karena itu ketertarikan didefinisikan ssebagai sikap positif terhadap orang lain
Salah satu hal yang mendasari terjadi hubungan sosial adalah seberapa jauh seseorang tertarik dengan orang lain. Apabila ada daya tarik di antara mereka, maka kemungkinan terjadinya hubungan lebih besar. Kenyataan seperti ini bisa di lihat di tempat-tempat umum. Karena tidak ada perhatian dan ketertarikan dengan wanita  yang duduk di salah satu bangku, seorang pria tidak akan menjalin hubungan sosial dengan wanita tersebut. Sebaliknya, meskipun kondisi yang ada sebenarnya sulit untuk mengadakan kontak sosial,tapi karena seseorang tertarik sangt kuat pada orang lain, maka akan diusahakan oleh orang pertama tersebut untuk menjalin hubungan.
Hubungan interpersonal adalah dimana ketika individu berkomunikasi, bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika berkomunikasi individu tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship.

B.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hubungan Interpersonal
Kadar atau kualitas hubungan Interpersonal mengalami pasang surut. Pada saat tertentu berada pada kadar yang baik yang ditandai oleh adanya keharmonisan, kebersamaan dan kerjasama yang menyenangkan, namun pada saat yang lain dapat saja mengarah pada kadar yang kurang baik yang ditandai oleh adanya perbedaan dan kekecewaan.
Beberapa factor yang mempengaruhi hubungan Intepersonal adalah sebagai berikut[2]:
1.      Toleransi
Toleransi menghendaki adanya kmauan dari masing-masing pihak untuk menghargai dan menghormati perasaan pihak lain. Toleransi menjadi faktor pengaruh hubungan interpersonal, hal ini disebabkan dengan dikembangkannya sikap toleran atau tenggang rasa, maka seandainya timbul perbedaan kepentingan kedua belah pihak dapat saling menghargai, sehingga perbedaan kepentingan itu tiak berkembang sebagai kendala kebersamaan.
2.      Kesempatan-kesempatan yang seimbang
Artinya rasa memperoleh keadilan dari interaksi akan menentukan kadar hubungan Interpersonal. Ketika seseorang merasa memperoleh kesempatan yang seimbang, peluang yang adil, maka akan mendorong orang tersebut mempertahankan kebersamaan. Maka begitu juga dengan hal yang sebaliknya.
3.      Sikap menghargai orang lain
Sikap ini menghendaki adanya pemahaman bahwa setiap orang itu memiliki martabat. Sikap yang baik untuk  mendukung kadar hubungan Interpersonal adalah sikap menghargai martabat orang lain.
4.      Sikap mendukung bukan sikap bertahan
Sikap zaman berarti memberikan persetujuan terhadap orang lain. Sedangkan sikap bertahan, berawal dari adanya perbedaan pendapat. Apabila dua orang saling bertahan, apalagi salah satu pihak terang-terangan menyeerang pertahanan pihak lain, maka ada kemungkinan karakteristik hubungan menjadi renggang.
5.      Sikap terbuka
Sikap terbuka adalah sikap untuk membuka diri, mengatakan tentang keadaan dirinya secara terbuka dan apa adanya. Keterbukaan dalam komunikasi akan menghilangkan kesalahpahaman dan kecurigaan. Keadaan seperti inilah yang akan menciptakan hubungan  Interpersonal yang  baik.
6.      Kepercayaan
Kepercayaan adalah bahwa tidak ada bahaya dari orang lain dalam suatu hubungan. Kepercayaan berkaitan dengan keteramalan (prediksi), artinya ketika kita dapat meramalkan bahwa seseorang tidak akan menghianati dan dapat bekerjasama dengan baik, maka kepercayaan kita pada orang tersebut lebih besar.
7.      Respon
Ketepatan dalam memberikan tanggapan. Hukum alam mengatakan kalau ada aksi maka maka akan ada reaksi. Hukum dalam berkomunikasi menyepakati kalau ada pertanyaan maka perlu ada jawaban. Jawaban dalam berkomunikasi adalah respon.
8.      Suasana emosional
Adalah keserasian suasana emosional ketika komunikasi sedang berlangsung, ditunjukan dengan ekspresi yang relevan.

C.    Motivasi dan Hubungan Interpersonal
Pada dasarnya setiap aktivitas manusia selalu berhubungan dengan adanya dorongan, alas an ataupun kemauan. Begitupula kehendak untuk menjalin dan membina hubungan interpersonal, juga di landasi dengan adanya dorongan tertentu. Dorongan, alas an dan kemauan yang ada dalam diri seseorang di sebut dengan motif. Dari motif-motif yang ada akan menimbulkan suatu motifasi. Motif disebut motivasi apabila sudah menjadi kekuatan yang bersifat aktif. Menurut Sondang P. Siagan (1995: 138) pengertian motivasi ialah:
Daya pendorong yang mengakibatkan seseorang mau dan rela untuk mengarahkan kemampuan dalam bentuk keahlian dan keterampilan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran kegiatan yang telah ditentukan sebelumnya dalam hidup sehari-hari.
Apabila di cermati, pada umumnya seseorang beraktivitas dan bekerja adalah karena dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian, aktivitas membina hubungan interpersonal pun juga di landasi oleh adanya dorongan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhannya, seseorang harus berhubungan dengan orang lain. Ambil contoh, untuk memenuhi kebutuhan akan sandang ia harus berhubungan dengan pedagang pakaian. Abraham Maslow menguraikan kebutuhan kebutuhan-kebutuhan manusia yang tersusun secara herarkis sebagai berikut[3]:
1.      Kebutuhan Fsiologi
Kebutuhan ini adalah di kebutuhan yang paling dasar dan di miliki oleh semua manusia. Contoh kebutuhan sandang, pangan, papan.
2.      Kebutuhan Rasa Aman
Setiap orang kebutuhan rasa aman. Untuk membutuhkan rasa aman itu, tentu saja seseorang tidak dapat bekerja sendirian.
3.      Kebutuhan Sosial
Secara kodrati manusia adalah makhluk social. Di dalam kehiduan bermasyarakat, setiap anggota masyarakat juga ingin di terima dalam lingkungan social, dapat di terima masyarakat. Selain itu juga manusia memerlukan kasih sayang persahabatan dsb.
4.      Kebutuhan Penghargaan
Kebutuhan penghargaan secara mudah dapat disaksikan dalam hidup sehari-hari, bahwa setiap orang pada dasarnya membutuhkan suasana saling menghormati dan menghargai. Kecendrungan umum bagi semua orang adalah keinginan mereka untuk berprestasi, mendapatkan status, menduduki jabatan penting, dsb. Untuk mewujudkan tercapainya keinginan itu, ia memerlukan dukungan orang lain, sehingga hubungan interpersonal menjadi sangat penting.
5.      Kebutuhan Aktualisasi Diri
Menurut mashlow kebutuhan ini merupakan pncak kebutuhan manusia. Artinya setelah kebutuhan-kebutuhan lain terpenuhi akan muncul kebutuhan ini. Kebutuhan aktualisasi diri ialah dorongan untuk menjadi apa yang ia rasa mampu. Sebagian besar manusia akan berusaha sekuat kemampuan untuk menunjukkan seluruh potensi yang dimilikinya. Orang akan merasa puas apabila sudah bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang maksimal.
            Kebutuhan rasa aman menjadi prioritas, apabila kebutuhan rasa aman itu sudah relative dapat terpenuhi, maka muncul kebutuhan dalam hirearki berikutnya, yaitu kebutuhan social atau hubungan untuk berafiliasi. Dalam masyarakat, kebutuhan seperti ini dapat di akomodir dengan adanya kesempatan berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dalam wadah besar bernama lingkungan masyarakat, maupun dalam wadah yang lebih kecil minsalnya melibatkan beberapa orang individu tertentu saja. Dapat pula, dalam masyarakat seseorang membentuk dan menjalin hubungan interpersonal secara formal.
Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan akan penghargaan atau kebutuhan untuk di hargai. Apabila dia mengerjakan sesuatu, akan terasa menyenangkan apabila pemimpin maupun anggota masyarakat lain secara langsung maupun tidak langsung menghargai pekerjaan tersebut.

BAB III
KESIMPULAN

Daya tarik interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Makin tertarik kita dengan orang lain maka semakin besar kecenderungan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pengertian daya tarik sering terlalu sempit,sekali lagi, terbatas pada daya tarik fisik. Padahal daya tarik fisik hanya merupakan salah satu bagian daya tarik. Namun ada baiknya jika hal ini dijadikan contoh untuk mengembangkan pemahaman tentang daya tarik.
Factor-faktor yang mempengaruhi hubungan Interpersonal adalah toleransi, kesempatan-kesempatan yang seimbang, sikap menghargai orang lain, sikap mendukung bukan sikap bertahan, sikap terbuka, kepercayaan, respon , suasana emosional.
Daya pendorong yang mengakibatkan seseorang mau dan rela untuk mengarahkan kemampuan dalam bentuk keahlian dan keterampilan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran kegiatan yang telah ditentukan sebelumnya dalam hidup sehari-hari.
Abraham Maslow menguraikan kebutuhan kebutuhan-kebutuhan manusia yang tersusun secara herarkis sebagai berikut: kebutuhan fsiologi, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, kebutuhan aktualisasi diri.


DAFTAR PUSTAKA

Aw, Suranto, Komunikasi Interpersonal edisi pertama, Graha Ilmu, 2011, Yogyakarta.
http://unisankomunikasi-3.blogspot.com/2009/10/atraksi-interpersonal.html















[1] http://unisankomunikasi-3.blogspot.com/2009/10/atraksi-interpersonal.html
[2] Suranto Aw, Komunikasi Interpersonal edisi pertama, Graha Ilmu, 2011, Yogyakarta, hlm. 30-33.
[3] Suranto Aw, Komunikasi Interpersonal edisi pertama, Graha Ilmu, 2011, Yogyakarta, hlm. 45-47.

0 comments:

Posting Komentar