Selasa, 22 Oktober 2013

Keistimewaan Haji Telah Ternodai

Posted by Alfan Ananta on 07.29



Tiap tahun dalam bulan dzulhijah menjadi sangat istimewa bagi tiap muslim. Bulan ini dimana kita sering mendengarkan khutbah dan ceramah tentang pengorbanan nabi Ibrahim as atas anaknya ismail as. Dari sinilah ibadah haji dan kurban bermula dan diteruskan oleh Nabi Muhammad saw, hingga apa yang kita lakukan dalam berhaji semata – mata melaksanakan perintah Allah melalui syariat yang dicontohkan rasulullah. Ibadah haji adalah salah satu dari lima pilar islam yang telah digariskan oleh Allah SWT sebagai amalan wajib yang harus seorang muslim lakukan. Tentu saja pelaksanaannya pun sesuai dengan apa yang telah rasulullah ajarkan. Ritual haji dalam banyak riwayat dijelaskan memiliki kelebihan yang luar biasa, sehingga tidak heran banyak dari kita memiliki cita – cita untuk dapat menunaikannya. Haji menjadi sangat istimewa dan dapat dikatakan menjadi puncak spiritualitas seorang muslim, dimana lewat hajilah seorang muslim dapat merasa “bertemu” dengan Sang Pencipta. Selain itu secara  sosial masyarakat, haji menjadi gelar sosial yang dicari banyak orang. Inilah berbagai keistimewaan haji yang telah sering kita dengarkan.
Dengan segala keistimewaan tersebut membuat kita ingin mencapai Tanah Suci Mekkah yang menjadi cita-cita semua umat islam diseluruh dunia. Banyak umat islam yang telah menjalankan ibadah haji ingin kembali ke sana guna menjalankan kembali. Ada apa dibalik semua ini? Apakah ada sesuatu yang tidak biasa yang mereka lihat di sana? Ataukah sesuatu yang lain? Yang jelas semua itu hanya bisa dijawab oleh yang bersangkutan. Terbukti dengan ucapan-ucapan jamaah yang sebelumnya telah melaksanakan hal tersebut dan begitu pula dengan para artis ibukota. Seiring dengan haji, ada satu amalan sunnah yang juga mengandung nilai yang tak kalah luar biasa yaitu kurban. Berangkat dari filosofi pengorbanan nabi ibrahim, kurban menjadi amalan sunnah yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah SWT. Kurban pun dapat dilakukan oleh mereka yang tidak berada di tanah suci hingga terasa sangat spesial.
Sesungguhnya dalam amalan haji dan kurban terkandung nilai yang sangat tinggi dan pelajaran berharga yang harusnya didapatkan oleh mereka yang melakoninya. Orang yang berangkat haji pasti akan meminta doa kepada kerabat dan berharap pada Allah untuk menjadi haji yang mabrur atau berhasil. Begitupun dengan kurban, baik itu berkurban sapi, domba, kambing, dan hewan ternak lainnya, tentu saja mengharap agar kurban yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT dengan nilai keikhlasan didalamnya. Lalu apa itu haji mabrur? Para ulama mengatakan bahwa haji mabrur adalah orang yang tidak bermaksiat kepada Allah saat menunaikannya. Bahkan imam nawawi al bantani mengatakan bahwa haji mabrur adalah mereka yang ketika kembali dari haji menjadi pribadi yang lebih baik perilakunya dan tidak membiasakan diri bermaksiat pada Allah. Begitu besar doa yang diharapkan seorang yang berhaji hingga akan menjadi tanggung jawab yang besar juga untuk menjaganya.
Indonesia sebagai sebuah negeri yang mayoritas penduduknya beragama islam dan tiap tahunnya menyumbang jamaah haji dalam jumlah besar, (yang bahkan sampai membuat daftar antrian jamaah karena tidak semuanya dapat berangkat pada tahun yang sama) harusnya menjadi kekuatan baru untuk dapat “memabrurkan” negeri ini. Belum lagi mereka yang juga dapat melakukan kurban tiap tahunnya, tentu juga menjadi aspek yang dapat membangkitkan negeri ini. Tak dipungkiri bahwa, mereka yang dapat naik haji dan berkurban adalah orang dengan tingkat ekonomi menengah keatas, namun tak sedikit mereka yang ada di golongan ekonomi kebawah, atas izin Allah dapat juga melakukan haji dan kurban. Inilah kekuatan dari haji dan kurban. Banyaknya mereka yang berangkat haji dan berkurban tiap tahunnya tentu saja kita harapkan untuk menjadi haji yang mabrur. Namun apa yang kita banyak jumpai saat ini adalah justru apa yang mereka lakukan di tanah suci hanyalah sekedar ritual haji tanpa makna di sisi Allah SWT. Mabrur tidaknya seorang berhaji adalah predikat yang Allah sematkan pada yang bersangkutan, namun kita juga dapat menilai berdasarkan apa yang telah para ulama sampaikan, apakah orang yang berhaji telah menjadi haji yang mabrur atau tidak.
Bukannya bersuudzon atas niat haji yang telah dilakukan, namun gambaran mereka yang berhaji di negeri ini sesungguhnya justru sangat jauh dari nilai mabrur yang mereka harapkan sendiri. Tidak sedikit dari kalangan selebritis, pengusaha, politikus, negarawan, akademisi bahkan rakyat biasa yang ketika selesai menunaikan ibadah haji tidak mendapatkan predikat mabrur. Hal ini terlihat dari perilaku dan tindakan mereka sering kita saksikan melalui berbagai media. Tak sedikit para selebritis yang tidak bisa menjaga sikap mereka yang telah melaksanakan ibadah haji dimana masih banyak diantara mereka yang bermaksiat kepada Allah dengan tidak menutupi aurat mereka, bertingkah laku bebas dan sebagainya. Begitu pula dengan para negarawan dan politikus yang telah mendapat gelar haji tersandung kasus KKN, yang merupakan kasus yang sangat buming saat ini serta tidak memepunyai rasa peka terhadap masyarakat.
Melihat kenyataan ini disekitar kita sungguh sangat disayangkan. Potensi mereka yang berhaji dan berkurban harusnya dapat menjadi indikator perubahan sosial masyarakat menjadi lebih baik (islami), dimana mereka yang berhaji biasanya menjadi orang yang dicontoh dan menjadi orang yang dapat memberikan contoh yang baik. Seharusnya mereka memahami doa mereka sendiri untuk menjadi haji yang mambrur. Namun begitu sungguh disayangkan jika apa yang mereka korbankan menjadi tanpa nilai disisi masyarakat apalagi di sisi Allah SWT. Haji mengajarkan para pelakunya untuk semakin mendekatkan diri pada Allah, untuk semakin membuat diri mereka berguna bagi masyarakat, dan untuk memabrurkan lingkungan mereka. Dalam haji dan kurban terdapat kesalehan individu dan dapat menular dalam masyarakat, hingga mereka yang berhaji dapat menjadi kontrol terhadap lingkungan sosialnya hingga dapat mewujudkan kesalehan sosial. Ditambah lagi dengan mereka yang juga mampu berkurban, kurban juga mengajarkan pada para pelakunya untuk ikhlas dan siap berkorban dengan ikhlas dalam memberikan tenaga dan materinya terhadap sesama.
Dari sini kita berharap dan selalu mendoakan agar mereka yang berangkat haji benar – benar menjadi haji yang mabrur dan juga kita berdoa agar kita juga dapat berangkat haji dan benar – benar mendapatkan predikat haji mabrur. Amin. Semoga ritual haji yang telah dilakukan oleh mereka yang berangkat (utamanya petinggi di negeri ini) dapat menyadarkan mereka agar dapat memperoleh kesalehan individu dan kesalehan sosial terhadap masyarakat yang mereka atur. Dan semoga haji tidak dinegasikan menjadi kesalahan individu dan kesalahan sosial. Wallahualam.




0 comments:

Posting Komentar