Kamis, 25 April 2013

KORUPSI…DILARANG TUHAN

Posted by Alfan Ananta on 16.52




Problem korupsi memang sangat sulit dimengerti hanya dari satu sudut pandang. Semua agama melarangnya.
Bangsa Indonesia memang tidak sedang berperang untuk membebaskan diri dari kungkungan kekuasaan penjajah yang ingin menguasainya. Namun, dalam konteks kekinian, bangsa Indonesia tengah bergulat dengan perjuangan berat melawan korupsi.
9 Desember 2012 kemarin merupakan hari peringatan Hari Anti korupsi. Sejumlah praktisi, mahasiswa pun turut menyuarakan aspirasi mereka supaya masyarakat menjadikan peringatan Hari Anti Korupsi  sebagai momentum untuk meningkatkan kejujuran. Dengan meningkatnya kejujuran diharapkan masyarakat, pejabat atau pihak-pihak yang berpotensi melakukan penyelewengan uang negara lebih mawas diri dan menghindari praktik kolusi, korupsi dan nepotisme.
Merajalelanya korupsi adalah persoalan yang tidak bias dipandang sebelah mata. Persoalan itu sama beratnya dengan persoalan kematangan social tertentu yang belum tercapai. Bangsa ini masih lemah dalam mengatasi pluralitas bangsa, serta kecenderungan reaksi social yang masih condong menggunakan kekerasan adalah buktinya. Kekerasan komunal menandakan penanganan konflik kepentingan yang hakiki dalam Negara demokrasi yang berkembang masih susah ditangani.
Ketidakadilan dan kekerassan komunal terjadi karena tidak adanya saluran yang tepat dalam mengungkapkannya. Hal ini bisa diakibatkan karena rakyat masih condong dijadikan objek semata oleh kekuasaan. Kekuasaan yang mana? “ kekuasaan yang koruptif” tentunya.
Elite ekonomi dan politik yang masih koruptif adalah pemicunya. Dan hal ini bisa juga merupakan warisan feodalisme kolonial masa lalu. Feodalisme dan kapitalisme adalah sumber korupsi yang pada masa Soekarno sudah diidentifikasi, dan sekarang pun masih ada dan masih mengancam. Pasalnya koalisi elite-elite politik dan ekonomi masih berkaitan.
Sampai saat ni, kongkalikong antara konglomerat dan elite politik pun masih kuat. Namun, meski demikian problem korupsi memang sangat sulit dimengerti hanya dari satu sudut pandang saja. Selain sudut pandang kenyataan bahwa ada dana-dana yang tidak digunakan sesuai aturan, juga ada latar belakang bangsa ini yang senang membalas budi, juga pragmatism-pragmatisme lainnya. Apa itu? “ya, misalnya saja, seperti pragmatism pembangunan yang kosong”.
Salah satu yang cukup mengkhawatirkan adalah adanya otonomi daerah. Otonomi daerah di satu sisi bisa memicu perkembangan ekonomi daerha, namun di sisi lain malah akan memberikan peluang semakin mudah daerah mengatur uangnya sendiri. Dengan demikian, maka potensi korupsinya juga semakin terbuka.
Korupsi negeri ini memang belum ditangani secara serius oleh seluruh elemen bangsa. Bahkan diperburuk dengan kondisi struktur-struktur organisasi yang tidak memadai, hokum tidak dijalankan dengan baik, lembaga yudikatif tidak dipercayai public. Padahal problem korupsi dampaknya sangat luas, bahkan bersentuhan langsung dengan rakyat, misalnya jalan nasional sebagai urat nadi perekonomian bangsa bisa mengalir hingga ke pelosok nusantara yang rusak lebihcepat dari seharusnya karena korupsi.
Sudah jelas hal demikian memprihatinkan. Apalagi semua tahu bahwa korupsi adalah kejahatan yang semua agama melarangnya. Dan secara khusus terdapat tiga etika yang berlaku, yakni korupsi sama dengan mencuri, korupsi adalah tidak jujur, dan korupsi adalah tidak bertanggung jawab atau lari dari kewajiban menghasilkan hal-hal terbaik bagi bangsa.
Dengan kata lain, Tuhan melarang keras yang namanya korupsi, yang merupakan perbuatan yang tidak bermoral. Perang melawan korupsi sebenarnya bukan hanya problematika di Indonesia. Di Negara maju pun ada. Misalnya Jerman yang dulunya koruptif, sekarang sudah punya system audit yang sangat bagus yang bisa menekannya, kemudian fungsi control pers juga ketat.
Yang jelas perlu diingat oleh kita semua, bahwa kalau ingin menyimpan mayat jangan dilemarai, karena lemari adalah benda yang sutau ketika akan dibuka. Pesan moral yang ingin disampaikan adalah bahwa jangan pernah berbuat korupsi, karena sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga..
Korupsi secara etis harus dicela dengan dua alasan. Pertama, setiap rupiah yang diperoleh secara korup adalah uang curian. Setiap koruptor adalah pencuri. Dan kedua, korupsi adalah ketidak adilan tingkat tinggi, karena terjadinya dengan memanfaatkan kedudukan istimewa yang tidak dimiliki orang lain. Sebagai akibatnya korupsi membuat orang miskin tidak bisa keluar dari kemiskinan. Korupsi adalah salah satu kecurangan terbesar dalam kehidupan bangsa. Karena korupsi itu, orang kecil tidak dapat hidup secara manusiawi. Karena biaya siluman yang membani perindustrian kita, para buruh kita tidak dapat  dibayar secara wajar, ini bukan saja berarti mencurangi orang kecil, tetapi juga membuat tidak berhasil usaha menciptakan lapangan kerja secara produk yang bermutu. Itulah sisi terburuk korupsi. Orang maupun lembaga yang korup tidak dapat membedakan antar yang benar dan yang salah. Itu fatal. Garis jelas antara kemanusiaan yang wajar dan sikap penjahat menjadi kabur. Orang terbiasa menipu, mencuri, main curang, dan tidak bertanggung jawab.
Dosa itu vertical, korupsi itu pidana
            Indonesia adalah negeri berjuta paradox. Tempat ibadah banyak berdiri, namun korupsi merajalela, segerinya kaya akan sumber daya alam, namun masih banyak rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Apakah yang salah?
            Sungguh, sangat sulit menjawab. Yang mudah hanyalah melihat. Melihat bahwa rakyat semakin menderita akibat akrobat korupsi yang dilakukan dengan beragam modus operandi. Selain itu, mudah melihat bahwa korupsi ternyata tidak hanay didominasi kaum adam saja, namun juga tidak sedikit kaum hawa terlibat di dalamnya.
            Apa mau dikata, itulah Indonesia. Meskipun dengan adanya peringatan Hari Anti Korupsi yang diperingati setiap tanggal 9 Desember, masih belum bisa dijadikan pegangan. Masyarakat masih harap-harap cemas.
            Itulah negeri jamrud khatulistiwa, yang daya tariknya pernah membuat Belanda betah berlama-lama tinggal di Indonesia. Itulah Indonesia yang korupsinya bagai tiada berujung. Pertanyaannya, apakah agama tidak memiliki peran dalam memberantas korupsi? Di mana kontribusi para pemuka agama?
Agama adalah penyeru moral namun tidak punya kaki dan tangan. Hokum efektif dalam  sebuah negaralah yang mengatur individu di dalamnya. Agama dengan Negara ibarat check and balances, sebagai fungsi control dan penyeimbang. Jadi, kaki dan tangan agama itu adalah Negara. Sebagai contoh sederhana, orang Islam Indonesia, jika hendak menunaikan ibadah ke Mekkah, harus menggunakan paspor dan visa. Mengapa tidak langsung saja padahal sesame muslim? Jawabannya, karena ada Negara yang mengatur supaya tertib. Selalu harus ada pranata hukum dalam masyarakat beradab di atas individu.
Melihat kondisi bangsa ini yang sangat rentan dengan penyakit korupsi, merupakan sebuah kenyataan bahwa secara alamiah manusia adalah makhluk berbudi yang baik. Namun, manusia adalah makhluk yang berpotensi korupsi, condong tergesa-gesa, tidak mau kerja keras tapi maunya enak-enak, isltilahnya iinstant culture.
Pesan moral agama tanpa diterjemahkan dan didukung oleh  hukum positif dan instrument lembaga Negara tak akan mampu memberantas korupsi. Begitu pun lembaga-lembaga keagamaan yang ada, tugas mereka bukan memberantas korupsi, tetapi menyampaikan pesan moral dan pendidikan masyarakat agar memilih jalan kebenaran dan kebaikan.
Dengan demikian, korupsi melumpuhkan ketahanan moral bangsa secara keseluruhan. Korupsi merusak karakter bangsa dan jati diri bangsa. Singkatnya, bangsa yang tidak lagi tahu apa itu kejujuran tidak akan bisa maju. Bangsa yang terdiri atas penjahat yang malas, tidak tahu apa itu kompetensi dan hanya ngiler mengambil jalan pendek to make a quick buck, adalah bangsa yang sakit.
Satu hal lagi, ada yang harus diubah dari mindset manusia yang saat ini pada umumnya menilai dan menghargai orang dari yang dia miliki bukan dari potensinya. Dalam diri manusia juga ada perasaan lebih berharga ketika dilihat dari unsur to have-nya daripada to be-nya. Sadar   atau tidak, ini yang memicu potensi greedy dalam diri manusia, yang akhirnya mencari jalan instans dengan korupsi.

0 comments:

Posting Komentar