Sabtu, 21 September 2013

(1) IBNU MUSA AL-KHAWARIZMI Astronom, Penemu Algoritma dan Aljabar

Posted by Alfan Ananta on 05.58

     Bagi sebagian kalangan, ilmu hitung-hitungan seperti matematika berikut cabang-cabangnya semisal Aljabar dan Algoritma, boleh jadi sebagai momok. Maklum, di tingkat Sekolah Menengah (SLTP dan SMU), disiplin ilmu tersebut menjadi materi dasar dan utama yang harus diberikan kepada anak didik. Tapi, bagi sebagian kecil lainnya, cabang0cabang seperti itu menjadi materi yang mengasyikkan.

     Lepas dari masalah tadi, tak banyak anak didik yang tahu, siapa orang yang dikenal dnegan sebutan bapak dan penemu dua cabang ilmu tersebut, Algoritma dan Aljabar. Dialah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi, ilmuan muslim penemu ALgoritma dan Aljabar.

     Diakui, sebagai cabang ilmu matematika, Algoritma kini tidak lagi dipelajari secara khusus di sekolah-sekolah. Nama Algoritma sendiri diambil dari nama penemunya, Al-Khawarizmi. Dikalangan ilmuan Barat ia lebih dikenal dengan nama Algorizm.

     Bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi (770-840 M), ilmuan yang berjasa besar dalam memajukan ilmu pengetahuan ini lahir di Khawarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (kini Uzbekistan) pada tahun 770 M. Kedua orang tuanya kemudian pindah ke sebuah tempat di selatan kota Baghdad (Irak), ketika ia masih kecil. Al-Khawarizmi hidup di masa kekhalifahan bani Abbasiyah, yakni Al-Makmun, yang memerintah pada 813-833 M.

      Sejarah mencatat, Al-Khawarizmi dikenal sebagai orang yang memperkenalkan konsep Algoritma dalam matematika. Khawarizmi adalah penemu dari beberapa cabang ilmu dan konsep matematika yang dikenal sebagai astronom dan geographer. Selain Algoritma, teori Aljabar juga merupakan buah piker khawarizmi.

    Nama Aljabar sendiri diambil dari bukunya yang amat terkenal, yakni Al-Jabr wa-al-Muqabilah. Ia mengembangkan table rincian trigonometri yang memuat fungsi sinus, kosinus, tangen, dan kontangen serta konsep diferensiasi.
     Dalam cabang Aljabar ini, sebenarnya Al-Khawarizmi banyak mengacu pada tulisan yang disusun oleh ilmuan asal Yunani, Diophantus (250 SM). Namun demikian, dalam meneliti buku-buku Aljabar tersebut, Al-Khawarizmi menemukan beberapa kesalahan dan permasalahan yang masih kabur. Kesalahan dan permasalahan inilah yang kemudian diperbaiki, dijelaskan dan dikembangkan oleh Al-Khawarizmi dalam karya-karya Aljabarnya.

    Karena itulah, tidak mengehrankan bila ia juga dijuluki sebagai ‘Bapak Aljabar.’ Bahkan menurut pengakuan Gandz, matematikawan Barat dalam bukunya The Source of Al-Khawarizmi’s Algebra, Al-Khawarizmi lebih berhak menyandang gelar sebagai ‘Bapak Aljabar’ daripada Diophantus. Dialah orang pertama yang mengajarkan Aljabar dalam bentuk elementer serta menerapkannya dalam hal-hal yang berkaitan dengannya.

     Tak hanya itu, di bidang ilmu ukur, Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai poletak rumus ilmu ukur dan penyusun daftar logaritma serta hitungan desimal. Sayangnya, beberapa sarjana Barat seperti John Napier (1550-1620 M) dan Smn Stevin (1548-1620 M) mengklaim bahwa penemuan tersebut merupakan hasil pemikiran mereka.

      Pengaruh Al-Khawarizmi dalam perkembangan matematika , astronomi, dan geografi tidak diragukan lagi. Pendekatan yang dipakinya menggunakan pendekatan sistematis dan logis. Ia memadukan pengetahuan dari Yunani dengan Hindu ditambah idenya sendiri dalam mengembangkan matematika. Khawarizmi mengadopsi penggunaan angka nol dalam ilmu aritmatik dan system desimal. 

    Selain matematika, Khawarizmi dikenal pula sebagai astronm. Di bawah pengawasan khalifah Al-Makmun, sebuah tim astronom pimpinannya berhasil menentukan ukuran dan bentuk bundaran bumi. Riset pengukuran ini dilakukan di Sanjar dan Palmyra. Hasilnya, 56,75 mil Arab sebagai panjang derajat meridian.

      Masih berkaitan dengan masalah perhitungan, ternyata Khawarizmi juga seorang ahli bumi. Bukunya Kitab Surat al-Ard, menjadi dasar dari ilmu bumi Arab. Naskah tu, hingga kini masih tersimpan di Strassburg, Jerman. Oleh Abdul Fida, seorang ahli ilmu bumi terkenal, menyebutnya sebagai buku yang menggambarkan bagian-bagian bumi yang dihuni manusia karena dihiasi secara lengkap dengan peta beberapa bagian dunia. CA Nalino, seorang penerjemah karya-karya Khawarizmi dalam bahasa latin menegaskan, tak ada orang Eropa yang dapat menghasilkan karya seperti ini.

     Tak hanya menguasai matematika dan astronomi, Khawarizmi juga dikenal ahli seni music. Dalam salah satu buku matematikanya, ia menuliskan teori seni music. Buku itu diterjemahkan oleh Aderald dari Bath pada abad ke-12 dengan judul Liber Ysagogarum Alchorism.

Karya dan Teori
     Kaya akan ilmu, Khawarizmi tetaplah sosok ramah dan tawadluk. Meski kebesaran dan ketenaran namanya membawa dirinya ke puncak popularitas hingga ke dunia Barat, diam-diam Khawarizmi mewariskan puluhan karya dalam bentuk teori maupun buku. Selain disebut di atas, beberapa karyanya yang lain dan telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing, sebagian dialihbahasakan pada abad ke-12 antara lain, adelard Bath dan Gerard Cremona.

      Risalah-risalah aritmatikanya, seperti kitab al-Jam’a wal-Tafreeq bil HIsab al-Hindi; Algebra; Al-Maqala fi Hisabal Jabr wa-al-Muqabilah, hanya dikenal dari translasi berbahasa latin. Buku-buku it uterus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan dasar oleh Universitas-universitas di Eropa. Buku geografinya berjudul Kitab Surat al-Ard yang memuat peta-peta dunia pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Selain itu, ia juga mencipta teori lain saat merevisi pandangan Ptolemetus dalam geografi. Ia memperbaiki beberapa bagian dalam bukutersebut. Tujuh puluh orang geographer pernah bekerja dibahwah kepemimpinan Khawarizmi ketika membuat peta dunia pertama di tahun 830 M. Khawarizmi pula yang menemukan dan menjelaskan teori geometric dengan angka-angka untu persamaan kuadrat, seperti x 210* = 39, yang oleh matematikawan sesudahnya secara berulang-ulang digunakan kembali.

      Ilmuan Barat, Robert Chester merupakan orang pertama yang menerjemahkan karya ini ke dalam bahasa Latin, pada 1145 M, dan sekaligus memperkenalkan Aljabar ke benua Eropa. Selain itu, ia juga menulis buku tentang sejarah berjudul Kitab Altarikh yang juga menjadi salah satu rujukan penting Imam Thabari, sejarawan Muslim adab pertengahan. “Dunia pantas berterima kasih padanya, sosok yang telah memperkenalkan angka-angka nol dan membuka mata manusia mengenal pernik-pernik hitungan.”

    Petualangan dan pengabdian penjangnya itu baru berakhir pada tahun 840 ketika Sang Khalik memanggilnya untuk selama-lamanya. Al-Khawarizmi meninggalkan warisan khazanah dalam ilmu pengetahuan dunia. Kita yang masih hidup saat ini, tak bisa berbicara matematika tanpa menyebut nama Al-Khawarizmi. Kita juga tak bisa bersenang-senang tanpa berterimakasih pada Al-Khawarizmi saat mempermainkan bola dunia alias globe.

     Tapi, yang lebih penting dari itu adalah, bagaimana caranya kita semua mampu menjadi seperti dia. Menerangi dan member pencerahan dengan Ilmu-ilmu Islam.

Sumber (Hery Sucipto, The Great Muslim Scientist Pemikiran dan Penemuan 22 ilmuwan Muslin Kebanggaan Dunia, Grafindo Khazanah Ilmu, Jakarta Selatan).


0 comments:

Posting Komentar